Senin, 23 Mei 2011

FILOSOFI GAMELAN DALAM ISLAM

Negara yang maju adalah negara yang dapat menghargai kebudayaannya sendiri. hmm... itu yang pengen banget aku sampaikan. Sebuah kata-kata yang dapat kita jadikan cerminan untuk negeri ini. Bukan mengapa atau bagaimana. Tapi kita bisa secara jelas melihat realitas yangterjadi selama ini. Ya, Apresiasi kita terhadap budaya masih minim. Hal ntu terbukti dari sedikitnya peminat Musik gamelan. Ya, dalam postingan ini aku pengen ngebahas tentang Gamelan. Sebuah Perpaduan musik yang sarat penuh makna.




Filosofi Gamelan    
Gamelan berasal dari kata gamel yang artinya melakukan, gamelan pertama di buat pada tahun 167, dan terbuat dari bambu dan gamelan itu orkestranya orang jawa. Gamelan itu banyak mengandung filosofi contohnya: Bunyinya: nang ning nung neng nong. Nang (menang), ning (wening, berfikir) nung (ndhunung, berdo’a ), neng (meneng, diam), nong (Tuhan). Namanya: G (gusti), A (alloh), M (maringi), E (emut-ingat), L (lakonono), A (ajaran), N (nabi).  



TATA CARA MEMAINKAN GAMELAN : 
1. Dalam memainkan gamelan kita harus mempelajari unsur-unsur yang menunjang, seperti aturan 
    main, tata susila, rasa kebersamaan dan kepekaan emosional.
2. Dilakukan dengan sikap yang baik dan duduk bersila. 
3. Masuk areal gamelan tidak boleh melangkai alat gamelan.



MACAM-MACAM INSTRUMENT GAMELAN: 

1. Bonang barung dan bonang penerus:
 Ricikan yang berbentuk pencon yang diletakkan diatas rancakan dengan susunan 2 deret yaitu bagian atas disebut brunjung dan bagian bawah disebut dhempok. Terdiri dari 2 rancak. 1 rancak untuk laras slendro yang berisi 10/ 12 pencon, dan laras pelok berisi 14 pencon.

2. Wilahan (terdiri dari): 
• Saron 1 dan 2 
• Demung 
• Slentem
• Peking
  Wilahan berbentuk pipih terletak diatas rancakan yang terbuat dari kayu, ada 2 rancak, 1 rancak untuk laras slendro, dan 1 rancak untuk laras pelog

 3. Kempul
 Kempul menandai aksen-aksen penting dalam kalimat lagu/ gending untuk menegaskan ketukan

4. Gong ( Gong gede dan gong suwukan )
 Gong menandai permulaan dan akhiran gending dan memberikan rasa keseimbangan setelah berlalunya kalimat lagu.

 5. Gambang 
Gambang ada3 rancak dengan bilah yang di buat dari kayu, 1 reancak untuk slendro, 2 rancak untuk pelok, masing-masing rancak terdiri dari 21 bilah mulai dari nada 5 sampai dengan nada 5.

6. Gender ( Gender barung dan gender penerus )
 Bentuk bilah menggunakan tabung atau bumbungan yang di buat dari bamboo. Sebagai resonator. Gender barung berisi 14 bilah, gender penerus 14 bilah.

7. Kethok kenong 
Dalam memberi batasan sturktur suatu gending, kenong adalah instrument kedua yang peling penting setelah gongdan menuntun alur l

8. Celempung
 Celempung instrument kawat petik. Kawatnya terdiri dari 13 pasang ditegakkan antara paku atas dan bawah, ada 3 buah satu untuk laras slendro dan 2 untuk laras pelok

9. Kemanak
 Bentuknya seperti buah pisang, untuk mengiringi tari buidaya dan srimpi 

10. Khendang Kendhan
Dimainkan dengan jari dan telapak tangan, Kendhang yang menentukan irama dan tempo, (menjaga keajekan tempo, menuntun peralihan cepat atau lambat, menghentikan irama gamelan). Macam kendhang. ( ada kendang gede, kendang wayangan, kendshang ciblon, dan ketipung).

11. Rebab 
Rebab berbentuk biola. Nabuhnya dengan cara digesek 

12. suling (Terbuat dari Bambu yang di lubangi )

13. sitter
 Sliter instrument kawat petik yang terdiri dari 13 pasang, (alat ini lebih kecil dari celempung)


 CARA MEMBUNYIKAN GAMELAN: 

1. Dikebuk Contoh: Bedhuk, Kendang 
2. Dipukul Contoh : Gender, gambang, kemanak,
    kecer, saron, bonang, kenong, kempul, gong. 
3. Digesek : Contoh : Rebab 
4. Dipetik Contoh : Celempung dan sitter 
5. Ditiup Contoh : Suling.  












PERAN RICIKAN / INSTRUMENT GAMELAN: Masing-masing instrument mempunyai perbedaan bantuk, peran dan fungsi. Untuk menyatukan hal tersebut, ada pembagian tugas dari masing-masing instrument, yaitu :

• Pamurba wirama 
   Bertugas untuk menguasai irama dalam sajian, menentukan tempo dan volume serta menghentikan   gendhing. Instrument kendhang.
 • Pamurba lagu :
 Bertugas penetu dan penuntun lagu, menunjukan nafas, jiwa, dan karakter gendhing yang disajikan. Instrument Rebab, gender, bonang. 
• Pamangku wirama 
  Bertugas menjaga irama, mempertegas tempo yang telah adea. Instrument Kethuk,kenong,kempyang,kempul dan gong
 • Pamangku lagu 
   Bertugas memjalankan lagu yang sudah ada, serta mempertegas melodi. Instrument Gender,Saron,  demung dan peking. 
• Pangrengga lagu 
  Bertugas mengisi lagu. Instrument Gender penerus, suling, celempung dan sitter.


Nilai-Nilai Strategis Dalam Gamelan 
Menurut Judith Becker dalam buku, “Gamelan Stories: Tantrism, Islam, and Aesthetics in Central Java”, mengemukakan bahwa pada zaman pertengahan, di Indonesia, elemen Gamelan digunakan sebagai media pemujaan eksternal dan internal. Dia mengutip Sastrapustaka yang mengungkapkan makna esoteris nada-nada Gamelan yang berhubungan dengan chakra, panca indera dan rasa. Gamelan sebagai yantra, alat, dapat membantu tahapan meditasi sebelum mencapai keadaan Samadhi/Semedi. Melalui media musik tersebut orang bisa melakukan penjernihan fikir, penjernihan hati dan pemurnian jiwa yang berujung pada penyembuhan psikologis. Dr. Masaru Emoto membuktikan bahwa musik dapat mempengaruhi air, sehingga musik yang indah akan membuat air membentuk kristal hexagonal yang indah. Memahami bahwa baik manusia, hewan dan tanaman mengandung air, maka suara musik akan mempengaruhi semua makhluk hidup. Organ-organ manusia mempunyai getaran dengan berbagai frekuensi. Walau frekuensi yang dapat didengar manusia berkisar 20 Hz-20 KHz, frekuensi suara berbagai alat gamelan sangat bervariasi dan memungkinkan terjadinya frekuensi yang sama dengan organ tubuh. Bila getaran suara Gamelan mempunyai frekuensi yang sama dengan suatu organ tubuh yang lemah, maka resonansi yang terjadi dapat memperkuat dan menyembuhkan organ yang bersangkutan. Musik yang harmonis juga akan mebuat sapi merasa tenang dan mempengaruhi sistem kelenjar yang berhubungan dengan susu. Selanjutnya, getaran frekuensi tinggi dari Gamelan akan merangsang ‘stomata’ tanaman untuk tetap terbuka, meningkatkan proses pertumbuhan. Bunga-bunga yang beraneka warna pada umumnya mempunyai panjang gelombang sama seperti panjang gelombang warnanya. Suara alat-alat musik yang bervariasi panjang gelombangnya dapat mempengaruhi organ yang sama panjang gelombangnya. Sebuah lembaga penelitian tentang perkembangan otak di jepang mengadakan riset tentang pengaruh gelombang suara supersonic terhadap perkembangan otak. Gelombang suara supersonic adalah suara yang tidak dapat dideteksi/didengar oleh telinga kita tanpa bantuan alat khusus. Ternyata gelombang suara supersonic mampu menstimulasi peningkatan produksi beberapa hormon penting di otak yang mana sangat baik untuk perkembangan otak. dan ternyata gamelan (Jawa dan Bali) banyak sekali memproduksi gelombang supersonic ini jauh lebih tinggi dari musik klasik. Sesuatu yang mungkin tidak pernah diketahui oleh kita yang mempunyai budaya ini, tetapi justru orang asing yang menelitinya dan mampu memanfaatkannya. Pertanyaan yang sangat menggelitik adalah, kenapa bangsa asing begitu giat menggunakan gamelan sebagai media pendidikan? Sedangkan ditanah kelahirannya gamelan masih saja mendapatkan stigma sebagai seni musik tradisional yang ketinggalan jaman? terjebak pada istilah pelestarian seni tradisi dan tidak melihat gamelan sebagai sebuah media pencerdasan emosional dan estetika. Ada beberapa factor yang membuat gamelan belum maksimal di dunia pendidikan maupun di masyarakat, factor kurangnya keberanian para praktisi gamelan keluar dari pakem yang selama ini dianutnya, pakem dianggap aturan/tatacara yang sudah final sehingga tidak perlu lagi adanya pakem-pakem baru. Kedua adalah factor minimnya para peneliti/ilmuwan dalam seni tradisi (gamelan) tentang kegunaan/efek gamelan bagi kecerdasan emosional anak. Ketiga factor gamelan yang dipresepsikan hanya untuk dimainkan oleh orang dewasa, keempat minimnya komposisi musik gamelan yang khusus dimainkan oleh anak-anak. Kelima hegemoni musik barat yang selalu dipaksakan menjadi acuan dalam pembelajaran musik di Indonesia, padahal sejak era 2000an hingga kini pendidikan musik di Negara maju sudah mulai mengadopsi gamelan sebagai bagian dari pendidikan karakter, karena gamelan dinilai sebagai musik yang humanis, karena nilai-nilai kebersamaan, empati, toleransi dan kolektifitas yang menjadi suatu kekhasan dalam gamelan, karena hal tersebut tidak didapatkan dari musik klasik barat yang cenderung individualis, miskin improvisasi, dan kaku karena harus memainkan sesuai dengan perintah partitur.  

okey dah, siapkah kalian untuk melestarikan budaya ini. kita lihat 60 tahun lagi. Kalo gamelan masih eksis seperti saat ini, maka kita bisa dibilang berhasil.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar